kata Duri
sesal itu selalu ada, ketika sang puan tak tahan lagi meredup emosi menahan rasa, namun tak kuasa lagi menahan diri sekejap ingin redup, seketika pula mulai memuncak sampai akhirnya tak mampu lagi lahirlah ia kata, yang tak sadar telah menjadi duri padahal sang puan hanya ingin dimengerti ia kesepian, ia butuh sandaran sederhananya ia merindukan